We are happy family..

Rabu, 13 Maret 2013

Oleh-oleh Terindah dari Payakumbuh (Part II)

Bulan Desember tahun 2009 lalu, gue nulis Oleh-Oleh Terindah dari Payakumbuh ini. Dan sekarang (walaupun nulisnya telat banget) mau nulis dengan judul yang sama, untuk kedua kalinya. Ini dia oleh-oleh terindahnya:


 Jadi, ceritanya sepulang gue sama Delisha dari Payakumbuh bulan Januari lalu, seperti biasa gue mengalami kenaikan berat badan yang sangat signifikan, kali ini 4 kilo! Nah, karena udah ngerasa ga nyaman banget sama badan yang udah bisa dikategorikan obesitas ini,, gue pun bertekad harus nurunin berat badan minimal sebanyak kenaikannya. Jadilah sepulang dari Payakumbuh gue puasa setiap hari (kalo yang ini niatnya ibadah ya) soalnya utang puasa jaman melahirkan delisha masih kurang 7. Nah, niat dietnya dilakuin dengan coba-coba food combining, jadi sahurnya makan buah aja, buka puasa buah dulu, abis itu baru sayur+lauk. 

Di hari ke 7 gue puasa, berat gue udh nyusut 3 kilo. Tapiii, entah kenapa kok gue tiba-tiba kepikiran, mungkin ga ya hamil? Soalnya kan kemaren abis barengan 3 minggu sama ayah. Langsung abis buka puasanya gue ngibrit ke toko obat, beli testpack gocengan. Daaan, ternyata feeling gue bener, DUA GARIS!    Perasaan gue, campur aduk. Antara seneng dikasih rezeki sama Allah, kaget soalnya belum direncanakan, takut belum sanggup jagain 2 anak,  dan merasa bersalah karena diet. Tapi, setelah beberapa menit merenung, yang bersisa cuma bahagia. Sisanya tinggal berusaha dan berserah diri.

Jumat kemaren kita ke Buah HAti buat kontrol, kitra pilih dr. Kartika Hapsari atas rekomendasi temen-temen. Ternyata dokternya masih muda, gaul, dan nyantai banget. Padahal tadinya gue berharap ayah ga cocok sama dokternya jadi gue punya alasan buat kontrol di bidan yang banyak direkomendasikan di forum gentle birth, tapi ternyata ayah udah cocok sama dokter kartika. Hihihi... Alhamdulillah kondisinya OK, biarpun emaknya mabok lumayan parah dan susah makan, tapi si deydey sehat. Sekarang umurnya sekitar 11 minggu, HPL akhir september atau awal oktober. 


Sehat terus ya dey... Maafin bunda kalo kurang bisa memberi kenyamanan karena deadline skripsi yang bikin bunda spanneng terus-terusan. Semoga kita bisa melewati semuanya dengan lancar ya... Bunda, Ayah, Kaykay love u soooo much...

Kamis, 17 Januari 2013

Sawahlunto, Desember 2012

haihooo, lama banget ga update blog ya... *sapusapu* Kemunculan kali ini, mau cerita tentang jalanjalan kita ke Sawahlunto. Pastinya pada tau kan ya, Sawahlunto? Dulu pas SD kota ini sering disebut-sebut sebagai penghasil batubara terbesar. Sejarahnya, sekitar akhir tahun 1800an, Belanda pertama kali menemukan batubara di wilayah ini. Kemudian, Belanda melakukan penelitian lanjutan dan membuat perencanaan sedemikian rupa sehingga Sawahlunto berubah dari sawah dan ladang gersang menjadi suatu kota tambang. Katanya, disinilah investasi terbesar  ditanamkan oleh Belanda. 

Berbagai fasilitas dibangun untuk mendukung penambangan batubara, antara lain jalur kereta api untuk memudahkan mengangkut batubara. Para pekerja didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia, sebagian besar pekerja paksa yang merupakan tahanan kriminal maupun politik. Mereka dikenal dengan sebutan orang rantai, buruh tambang yang bekerja dengan kaki dirantai agar tidak melarikan diri. Penambangan batubara terus berlangsung di Sawahlunto meskipun Belanda sudah hengkang dari Indonesia, tidak hanya oleh perusahaan pemerintah tetapi juga swasta. Sampai pada tahun 2000an, tambang luar sudah tidak menghasilkan. Sebenarnya masih banyak kandungan batubara, tetapi letaknya jauh di dalam sehingga memerlukan biaya besar, tak sepadan dengan benefitnya. Sejak saat itu, Sawahlunto dianggap sebagai kota mati karena aktivitas bisnis utamanya berhenti, banyak ditinggalkan penduduknya yang khawatir dengan kelangsungan hidup kotanya.

Lalu, sekarang gimana nasibnya? Untungnya pak walikota memiliki terobosan untuk menyulap Sawahlunto sebagai kota wisata. Yah, jangan dibayangkan kota wisata seperti di Bali yang penuh fasilitas yaa. Sesuai dengan mottonya, 'kota tambang yang berbudaya', yang dijual disini utamanya tetep sejarah tambangnya. Ada juga objek wisata lainnya yang dikembangkan pemerintahnya demi meningkatkan pariwisata seperti waterboom, panorama, dan kebun binatang.

Dari Payakumbuh, jaraknya sekitar 80km, 2 jam perjalanan lewat batusangkar, tanah datar. Kita berangkat sekitar jam 10, tapi karena mampir-mampir, jadilah siang banget baru sampe Sawahlunto. Pertama, mampir di dangau kawa daun. Penasaran kaya gimana rasanya air kawa, udah berkali-kali ke minang belum pernah nyobain. Jadi, kawa daun ini adalah minuman yang dibuat dari daun kopi. Sejarahnya, jaman dulu hampir semua biji kopi diekspor penjajah, jadilah pribumi jaraaang banget bisa minum kopi. Tak ada rotan akarpun jadi, tak ada biji kopi daunnyapun jadi. hehehe... Yang unik, air kawa ini disajikan di tempurung kelapa dan dialasi batang bambu. Rasanya, kata gue sih agak kaya teh,agak kaya kopi. lumayan aneh.. Hihihi... Selain yang original, biasanya dibikin pake susu, tapi gue ga nyobain. Dangau kawa di sepanjang jalan tanah datar-batusangkar ini kalo siang-sore pasti ramee banget.

Selanjutnya, mampir ke Istana Besar Pagaruyung. Lagi rame banget juga soalnya liburan anak sekolah. Disitu cuma sebentar, numpang foto-foto, Delisha naik kuda tunggang, beli baju kenang-kenangan buat gue sm delisha(yang akhirnya ketinggalan di hotel). Abis itu cus ke Sawahlunto.

Jam setengah 2 sampe Sawahlunto. Tujuan pertama kita ke kebun binatang buat nyenengin anak. Lokasinya di kawasan wisata Kandi. Tiket masuknya kalo ga salah 10ribu. Bangunannya masih lumayan baru, bersih. Binatangnya ga terlalu banyak kayanya (apa gue yg ga mengeksplor?), mungkin karena masih tergolong baru ya, jadi koleksinya belum lengkap. Melihat lahannya yang masih luas sih semoga dikembangin lagi. Di dalem lokasi juga ada taman kupu-kupu (kita ga masuk), flying fox, sama wisata air semacam bebek kayuh, perahu naga, sampe banana boat! Nah, kalo favoritnya Delisha, jelas, kuda tungggang (6rb). Ada juga gajah tunggang, tapi Delisha ga berminat.


Habis dari kebun binatang, karna udah sore kita cari hotel dulu. Dari kawasan Kandi ke kota sawhlunto lumayan juga, sekitar 15km. Sampai kota, tujuan utama cari hotel. Dari hasil gugling, kandidatnya ada 2, hotel ombilin sama parai city garden. Harganya beda -beda tipis, cuma kalo ombilin ini bangunan tua peninggalan belanda. Kalo pengen dapet suasana kota tuanya sawahlunto, cocok banget hotel ini. Tapi, karna gue agak-agak parno sama bangunan kolonial, berasa spooky gt, jadilah kami pilih parai city garden hotel. Kamar deluxe, ratenya sekitar 400rb semalem. Not bad.. Kalo mau lebih hemat, di Sawahlunto juga banyak rumah penduduk yang dijadiin guest house lho..

Dari jendela kamar hotel yang sengaja kita pilih di lantai 3, kita bisa liat pemandangan kota sawahlunto, kota kecil yang bentuknya seperti mangkok karena dikelilingi bukit nan hijau. Kebanyakan bangunannya masih bangunan tua jaman Belanda yang dijadiin cagar budaya sama pemerintah karena inilah daya tarik Sawahlunto. Menjelang magrib, pas lampu-lampu mulai dinyalain tuh indah banget, rasanya damaaai...

Oh iya, di foto itu, yang di atasnya hotel, di atas bukit ada deretan huruf HOLIWUD SAWAHLUNTO lho, yang warna kuning itu. Sayang fotonya kecil jadi ga keliatan. Ini juga jadi icon Sawahlunto, karena letaknya di atas bukit jadi keliatan dari segala sudut kota ini.

Abis maghrib, kita keluar cari makan. Clueless nih, soalnya googling juga ga nemu info yang ok. Pas nanya ke resepsionis hotel tentang tempat makan enak, dijawab di resto hotel enak. Hahaha, yaeyalah mbaknya promosi. Akhirnya kita muter-muter aja keliling kota. Beneran lho, keliling kota! Soalnya, disana, kita udah berasa lewat jalan beda, muter-muter, sampainya disitu-situ juga! Daaaaan, akhirnya, kita makan...pecel lele. Hahahaha.... Jam 8 Itu ya, udah sepi aja lho. Pilihan makanan cuma minang dan pecel lele. Adasih semacam kafe di depan hotel ombilin, tapi karna sesiangan ga makan, kita pilih makan berat aja. Okesip... Jadi pelajaran kalo mau kesini lagi mungkin makan malemnya sebelum maghrib kali ya... Sebelum balik hotel, kita sempet mampir ke semacam bazar yang diadain karna siangnya ada tabligh akbar bersama mamah dedeh.

Paginya, abis sarapan sempet tidur lagi, baru check out. Tujuan selanjutnya wisata tambangnya. Kita ke Lubang Mbah Soero. Pas baca-baca, kok kayanya agak horor ya tempatnya, ga semua orang berani masuk, banyak juga cerita mistisnya. Jadilah gue yang cemen ini ga berniat masuk. Ngeri kan bok, bawa anak kecil, kan biasanya anak kecil suka liat yang aneh-aneh tuh... Jadi kita masuk ke infobox-nya, niatnya mau liat-liat aja. Infobox ini dulunya balai pertemuan buruh, dipakai sebagai tempat berkumpulnya buruh, menonton berbagai pertunjukan seperti ronggeng, tonil, dan sebagainya. Tadinya gue mikir tuh, baik juga kumpeni ngasih hiburan ke pekerja. Ternyata, hiburan itu ga gratis juga, harus bayar. Terus, tujuannya supaya uang buruh ga lari kemana-mana, tetep berputar disitu aja. Yayaya...

Setelah bayar tiket sebesar 8ribu rupiah, ternyata kita langsung disuruh ke belakang, pake helm dan sepatu tambang, daaan, dianter ke Lubang Mbah Soero. Okelah, terpaksa masuk. Pas udah di dalem, ternyata ga seserem yg gue bayangin. Mirip lah sama Lubang Jepang Bukittinggi, bedanya disini dindingnya item. *Yaeyalah namanya juga  emas hitam* Malah disini lebih enak karena ada blower anginnya, jadi ga panas dan napas ga engap.

Ceritanya, Mbah Soero ini adalah nama mandor dilubang itu. Beliau adalah pekerja keras dan baik hati sehingga sangat disegani. Karena itu kini namanya digunakan sebagai nama lubang yang aslinya bernama lubang soegar ini. Lubang Mbah Soero sendiri dibuka tahun 1891 di masa awal mulainya penambangan. Panjangnya sekitar 1,5 km. Karena letak lubangnya dekat dengan batang (sungai) lunto, banyak rembesan air. Akhirnya, lubang ditutup pada tahun 1932. Mulai tahun 2008 dibuka untuk pengunjung sepanjang 186km. Masuknya dari samping infobox dan keluar di seberang jalan. Konon, saat lubang dibuka untuk dipugar menjadi tempat wisata, ditemukan kerangka orang rantai disini, yang akhirnya dikuburkan di makam orang rantai. Konon juga, banyak pengunjung yang liat hal-hal gaib disini, ada juga yang diberi penglihatan gimana dulu orang rantai diperlakukan dengan sangat kejam. Alhamdulillah kita aman-aman aja. Tapi emang sih, sampe tidur malemnya, gue masih kepikiran dan kebayang-bayang gambar orang rantai yang diliat di Infobox. Oh iya, pas keluar dari itu kita baru baca brosurnya, ternyata ada beberapa larangan, salah satunya kalo lagi haid dilarang masuk. Nah, gue udah terlanjur donk, alhamdulillah ga ada apa-apa.

Sebetulnya, di dekat infobox ada juga museum gudang ransum dan taman iptek. Tapi, karena Delisha tiba-tiba rewel nangis minta anggur, akhirnya kita ga jadi kesitu.  Jadi Lubang Mbah Soero menutup perjalanan kita kali ini. Next time, semoga ada kesempatan berkunjung lagi ke Sawahlunto. Pengen juga nyobain naik Mak Itam, lokomotif uap yang jadi icon Sawahlunto. Sayangnya mak itam cuma beroperasi di hari minggu, jadi kemarin ga bisa. Jadi, buat yang suka jalan-jalan, apalagi yang ngakunya pecinta sejarah, ga ada salahnya berkunjung ke Sawahlunto, kota kecil yang sarat sejarah.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Pindah Daycare

 Yap, sejak bulan September Delisha pindah dari daycare hanifa. Sebenernya sih udah dari sebelum puasa itu Delisha udah jarang masuk, karena waktu liburan sekolah ada ibu sama ade2 gue yang jagain. Trus pas pas puasa adaa ade gue yang waktu itu blom mulai kuliah. Nah, 2 minggu setelah idul fitri,  pas  libur gue abis, dengan pedenya gue dateng ke hanifa udah bawa perlengkapan tempurnya  Delisha. Ternyataaa, daycare nya lagi off sampe bulan oktober. Langsung lah gue panik, soalnya besoknya udah masuk kuliah. SMSan sama salah satu gurunya di Hanifa, dikasih tau beberapa daycare tempat anak2 eks-hanifa pda pindah. Akhirnya surveylah ke salah satunya yang terdeket dari rumah, Daycare Mentari ini.

Pertama liat lokasinya agak ga sreg. Ini kan ada playgroup sama TKnya juga di lantai 1, nah daycarenya ini adanya di lantai 3, sementara lantai 2 rumah pemiliknya. Gue langsung parno aja kalo anak-anak kurang pengawasan trus pada maen di tangga gimana? Udah gitu kan ini lokasinya terbuka, jadi ga pake pintu-pintuan, langsung udara dari luar. Parno lagi, kalo ujan angin gimana ya itu anak-anak? Trus, ketemu sama salah satu ibu yang jagain anak daycare, sama salah satu guru TK nya, nanya tentang biaya. Abis itu, pulang. Sampe rumah galau bingung karena kurang sreg sama daycare, tapi ga ada pilihan lain. Malemnya akhirnya nelpon tantenya ayah buat minta tolong jagain beberapa hari aja. Akhirnya 3 hari Delisha di rumah sama omanya.

Setelah omanya pulang, otomatis mau ga mau Delisha harus di daycare lagi. Akhirnya gue putusin untuk nyoba dulu di Mentari. Untungnya bisa bayar harian dulu. hari-hari pertama, seperti biasa, pake drama dulu kalo ditinggal, tapi sih ga separah dulu di hanifa, yang dari pagi sampe sore nangis tanpa henti. Disini paling beberapa kali nangis kalo inget bundanya. Sebulan disitu, masih aja nangis-nangis. Tapi, dia udah punya temen yang dia senengin, Ambani namanya. Jadi, Delisha ini maunya sama Ambani aja terus, ga mau main sama yang lain. kalo ambaninya diajak main sama yang lain, delisha marah. Hihihi...

Belakangan ini Alhamdulillah udah ga ada drama pas mau berangkat ke daycare, ga nangis pas ditinggal, dan disana udah jarang banget nangis. Udah mau main sama semua temenny juga, biarpun tetep ngefans berat sama ambani. Malah, kalo dijemput suka susah diajak pulang, maunya main-main aja. Hehehe... Tadinya sih niatnya cuma sebulan aja disitu, sambil nyari-nyari pengasuh, atau balik lagi ke hanifa bulan Oktober. Tapiii, ternyata anaknya betah, jadi ga mau ngerusak segala usahanya dia buat beradaptsi disitu dengan mindahin dia balik ke hanifa.

Ngeliat anaknya seneng disana,  segala keparnoan gue buang jauh-jauh. Percaya aja sama Allah yang selalu jagain Delisha lewat ibu-ibu gurunya selama Delisha di daycare. Baik-baik selalu disana ya Delisha, maafin bunda yang ga bisa 24 jam nemenin Delisha. Semoga semua yang kita lakukan selalu diridhoi dan dimudahkan oleh Allah.. Terima kasih atas pengertiannya sama ayah bunda. We love u too much...  *jadi melow deh*



Mentari Islamic Preschool
Jl. Jambu No 23 B Pisangan Ciputat Timur



Senin, 08 Oktober 2012

Carita, September 2012

Berawal dari kejenuhan gue akan rutinitas sehari-hari yang menguras tenaga, pikiran dan air mata. Tsaaahhh... Jadilah keinginan buat sejenak menyingkir dari kemacetan itu sangat menggebu. Tadinya pas lagi ga ada jadwal kuliah Kamis-Senin kita mau nyusulin ayah ke Payakumbuh. Tapi oh tapi ternyata ayah ada Rakorda, jadi dicancel tiketnya. Sebagai pengobat kekecewaan, suami nan tampan dan baik hati ngajak kita piknik. Kebayangnya ya udah pasti maunya ke pantai, umm, Bali! Tapi nampak sangat tidak mungkin dengan kondisi keuangan yang morat-marit gini. Jadilah pilih yang deket-deket aja.

Tadinya ayah ngajakin ke anyer, tapi kok gue kaya agak pesimis ya sama pantainya. Secara pantai ideal buat gue ya yang pasirnya putih, airnya biru, arusnya tenang, dan sepi. Googling2 tentang anyer tampak kotor dan banyak karang. Lalu, kepikiran Pulau Tidung atau Pramuka. Tapi ternyata barengan itu lagi ada acara mulung tidung, jadi pasti rame banget dan emang nampak kurang persiapan aja kalo ke Pulau ngajak Delisha. Kepikiran juga Laguna Helau Lampung, tapi kayanya ngga deh kalo cuma nginep semalam. Butuh rencana lebih matang juga.

Bah kepanjangan intronya. Singkat cerita akhirnya diputusin ke Carita aja. Cari-cari hotel murah dengan budget 500ribu e bawah. *kere*. Masuk ke forum jual beli andalan, apalagi kalo bukan kaskus. Ada yang nyewain condominium Lippo Carita dengan harga murah, 400 ribu aja. Langsung deh sms, deal harga, hubungin penjaganya. Sabtunya kita berangkat abis subuh renccananya, tapi kok abis sholat gue ga tega bangunin ayah yang nampak kecapean jadinya ngaret deh, jam setengah 6 baru berangkat. Keluar tol Cilegon Timur jam setengah 8, lancar jaya. Tapiiii, ternyata perbaikan jalan sepanjang Krakatau Steel itu belom selese juga padahal udah bertahun-tahun, jadilah macet parah. Sempet mampir My Pisita Resort Anyer buat liat rate dan pantainya. Disitu cottage yg 1 kamar 700ribu aje semalem. Pantainya ga gitu bagus, pasirnya cuma dikit, lebih banya yang karang.
Numpang main bentar di pantainya, abis itu cus ke Carita. Jauh ya bok ternyata, ga nyampe-nyampe rasanya. Sampe Lippo jam setengah 11 aje. Langsung hubungin penjaganya, ternyata udah bisa langsung masuk. Lumayan lah ya untuk harga segitu dengan 2 kamar dan fasilitas dapur kumplit biarpun udah agak usang. Sayangnya buat gue sih cuma 1, di lantai paling atas bok, katanya sih lantai 3, tapi buat gue itu lantai 4.

Si bocah udah ga sabar aja minta main di pantai padahal panasnya minta ampun. Hmmm, lumayan bagus ya pantainya, pasirnya bersih, arnya tenang, biarpun rame sih.  Kalo kata ayah kaya kuta, malah pas gue masang fotonya jadi DP BBM, yang punya Bali Mba Jeni Rosihan nyangkain gue lg di Nusa Dua. Hihihi... Sorenya kita main lagi di pantai, Delisha udah siap sama perlengkapan tempur buat bikin sands castle.



Pake ada insiden Delisha kelelep segala. Ceritanya dia lg berdiri di pinggiran, mau gue fotoin, ternyata anaknya lari ke tengah dan kebawa ombak, posisinya udah telentang mulutnya kemasukan air. Rasanya jantung gue udah mau copot aja pas ngangkat dia, alhamdulillah gapapa dan anaknya ternyata ga kapok mainan air lagi.

Malemnya kita udah berencana makan seafood. Ada sih di inggir pantai yang pada nawarin, tapi harganya gilingan, but bertiga kita ditawarinnya 300 aje. Ajegile. Akhirnya nanya satpam dimana tempat makan seafood yang enak. Ditunjukinnya warung Barokah Alam. Kaloo dari Lippo Carita, lurus aja terus, sampe indomaret, masih lurus lagi beberapa ratus meter, warungnya di kiri jalan, cirinya kalo keramean pasar&warung udah abis, nah disitu warungnya. Hehehe, ciri yang aneh. Kita makan ikan bakar 7 ons (sekilo 60rb), udang yg gede 5 ons (sekilo 90ribu), cumi 5 ons (sekilo 45rb) udah sama ongkos masak, nasinya 5 ribu per porsi. Banyak banget ya bok buat bertiga doank, jadi cuma dimakan setengah, sisanya dibawa pulang buat sarapan paginya. Maafkan fotonya berantakan, udah dimakan baru dipotoin.

Paginya, main-main lagi di pantai, terus berenang di kolam renang condonya juga. Bagus juga kolamnya. Kayanya gue yang paling aneh disitu, berenang pake jeans, abisnya ga niat tadinya, tapi terlanjur basah nemenin Delisha jadi gatel juga pengen berenang.

Abis itu sempet tidur siang dulu, jam 1an baru keluar. NAh, karena menghindari macet di Cilegon, kita lewat jalur alternatif, Pandeglang-Serang. Dari carita ita lurus terus, ntar ada papan petunjuk jalan belok kiri ke jalan Jiput. Ikutin aja jalan itu terus sampe kota Pandeglang, lanjut serang, trus msuk tol deh. Gue udah baca sih kalo jalannya naik turun, tapi ga kebayang kalo parah tanjakannya. Ada 1 tanjakan yang tinggi banget, hampir mobil kita ga kuat. Selama nanjak itu udah tahan napas aja, dan baru buang napas lega pas tanjakannya terlewati. Niatnya mau makan di Serang, tapi googling tempat makan enak disitu ga nemu-nemu, akhirnya baru di Serpong kita makan di Lekko. Keluar tol pondok ranji, sholat dulu, pulang. Sampe rumah jam 7an. Senaaaang, tapi cape. Otak fresh badan pegel. Hihihi

P.S. Terima kasih ya ayah buat liburan singkatnya. Bulan depan kita ke pantai mana lagi? *minta digeplak* I love u...

Selasa, 02 Oktober 2012

Delisha dan Kuda

Udah sejak umur setahunan Delisha ini suka banget sama kuda. Kalo ada gambar kuda aja, mau di game, TV, buku, atau dimanapun, pasti langsung heboh. Kalo mainan animal train di tablet juga paling semangat kalo suruh naikin horse ke kereta, mainan puzzle juga maunya yang horse terus.  Apalagi liat aslinya, udah pasti langsung heboh minta naik!

Awalnya dulu sukanya naik delman. Pas di Payakumbuh, kan disana delman jadi alat tansportasi, jadi banyak banget. Sering kita diturunin sama ayah di jalan, lanjut naik delman ke tempat tujuan, pake acara muter-muter dulu karena si bocah ga mau turun cepet-cepet. Terus, pas di Puncak, di hotel evergreen Delisha minta naik kuda tunggang, waktu itu masih ditemenin sama gue. Sekali naik 10ribu, lumayan jauh.

Abis itu,ga pernah nemu tempat buat naik kuda lagi. Terus, Desember lalu kita ke Kampung Main Cipulir, ada kuda tunggang juga. jadilah si bocaah langsung minta naik, ditemenin sama Om Na nya, sekali naik 10ribu, padahal cuma muter deket banget. Untungnya sekali naik doank kaena waktu itu dia lebih tertarik buat berenang. Fotonya lupa di folder mana.

Lama juga ga pernah naik kuda, beberapa kali naik delman di pasar ciputat, bareng sama bocah-bocah sekitar pasa, gue ngikutin di belakang pake motor. Lalu, pas abis arisan emak cabe ijo di rumah neng riska, ternyata di tanah kosong di Graha Bintaro ada tempat naik kuda. Petama naik ditemenin adek gue, abis itu adek gue ga mau lagi karna susah naiknya. Ternyata pas gue tanya dia bilang berani sendirian. gue udah deg-degan aja selama kudanya jalan, gue pesen abangnya jangan lupa dipegangin dan jalan aja kudanya, jangan lari. Empat kali muter aja loh, dan hampir ga mau udahan. Untungnya ada odong-odong yang bisa mengalihkan perhatian. Oiya, sekali naik 5ribu sekali puteran.

Abis dari Graha itu, tiap hari dia bilang, kalo ayah pulang mau naik kuda. Jadilah kemarin kita mau ke Graha, tapi kejauhan jadi ke Giant sektor 7. Sekali naik 10 ribu muter parkian mobil. Pertama, sekali naik. Abis itu ganti kuda, karena ayahnya mau nemenin jadi ganti yang lebih besar. Abis itu ayahnya turun, ngeri ga kuat. Hihihi. tapi anaknya ga mau turun donk. Ok bang, muter lagi! Sekali, dua kali, diminta turun ga mau. Tiga kali, empat kali, ga mau juga. Dirayu-rayu, nangis kejer. kita minta abangnya sewa aja biar ga diitung per puteran, abangnya ga mau, katanya ga enak sama yang lain. Tekor bo! Ditawar jadi 20ribu 3 puteran, akhirnya mau. jadilah nambah 3 puteran, plus 1 puteran karena abangnya ga punya 5ribuan buat kembalian.
 Mukanya sedih banget, nangis sambil elus-elus kuda

Abis itu, disuruh turun, tetep nangis kejer sambil elus-elus kuda. Sedih ngeliat mukanya, tapi harus ditega-tegain. Langsung angkat masuk ke mobil, di jalan tetep jejeritan. Karena ayahnya ga tega, diajaklah main lagi, tapi ke Graha biar agak murahan. Kata ayah, daripada besok balik payakumbuh terngiang-ngiang muka sedihnya itu terus. Sampe Graha langsung sumringah lagi, disitu naik kuda coklat, minta pindah ke item, pindah lagi ke putih, masing-masing 2 kali. Dan lucunya, yang sebelum puteran terakhir kita liat dia ngobrol sama abangnya. Ternyata oh ternyata, dia bilang ke abangnya, "yang kenceng bang, jangan pelan-pelan kudanya". Deuuuh, nampaknya calon atlet berkuda masa depan nih! Ga tau dia tiap kudanya lari emaknya ini nahan napas mulu takut jatoh. Alhamdulillah setelah 6 kali naik mau juga udahan, kayanya sih karena ngantuk berat, di mobil langsung tepar.


Ayah, nabung gih buat beli kuda, modalin anaknya jadi joki atlet. Hihihi...

Rabu, 26 September 2012

Tari dan Musik Bali dalam Potret Pesta Desa

Sabtu, 15 September lalu, gue, Delisha sama kakak sepupu gue nonton pertunjukan Tari dan Musik Bali dalam Potret Pesta Desa oleh Kompiang Raka dan LKB Saraswati di Gedung Kesenian Jakarta. Acara ini adalah salah satu dari rangkaian festival schowburg X dalam rangka ulang tahun GKJ ke 25. Selain pertunjukan ini di hari2 lain sejak 31 Agustus-29September ada juga performance teater garasi, sandiwara sunda miss tjitjih, resital piano Sudiarso Duo, piano&violin duo greco&bonucci, bahkan ada Daniel Sahuleka juga.

Jadi dua hari sebelumnya, gue menang kuis di twitter yang diadain Women's Health Indonesia (Fit Magazine). Yaiyalah menang, yang ikut cuma dua orang. Hahhaahaha... Sebenernya 50:50 mau diambil ga tiketnya, males ke kuningannya. Tapi, karna entah kenapa belakangan lagi suntuk banget, akhirnya gue ambil juga tiketnya, itung2 buat refreshing. Dan kebetulan juga lagi sering kepikiran pantai, jalan legian-kuta, ayam betutu gilimanuk, ya intinya pengen ke bali, jadi ya itung-itung pemanasan dulu lah nonton tari bali. Kalo ke balinya sih entah kapan. Hihihi...

Karena pertunjukannya malem, jadinya kita numpang di kosan sepupu gue di Cempaka Baru. Jam 7 berangkat dari kosan, sampe GKJ sekitar setengah 8. Agak keder juga pas sampe sana kok orangnya pada rapi2 banget, banyak bule pula pada pake batik, sementara gue pake kaos sama jeans. Langsung  berasa saltum deh, tapi namapun gue, ya cuek bebek aja. Langsung ngasih undangan ke LOnya, dikasih nomor kursi, langsung masuk.

Sekitar jam 8 lewat 10 pertunjukan dibuka dengan musik gamelan bali. Langsung berasa lagi Bali. Abis itu, lanjut sama tari Gadung Kasturi. Nah, pas di tari ini malah gue berasa, kok ga kaya tari bali ya? Jadi gerakannya, sama kostumnya kurang Bali gitu, malah kaya tari jawa yang pake melati2 di kepala.


Lalu, dilanjut tari Palegongan Abimanyu, nah kalo yang ini Bali banget, gerakan maupun kostumnya.


Tari yang ketiga  adalah tari Saraswati, yang menceritakan tentang Dewi Saraswati sebagai dewi pengontrol. serta pelindung kebijaksanaan dan seni, juga simbol kecantikan.


Abis itu, settingnya diganti, kali ini yang ditampilkan adalah tari janger, yang artinya jejer, jadi tari dan nyanyian bersahut-sahutan yang dilakukan muda-mudi secara berjejer atau berbaris.


Setelah itu, rehat dulu 20 menit. Kita keluar dulu dengan maksud cari makan di sekitar situ, tapi ternyata ga ada. jadilah beli minum aja. Trus pas mau ke toilet, ternyata di dalem ada buffet jajan pasar gitu, ada kantinnya pula. Tapi kita ga beli sih, cuma Delisha numpang foto aja.


masuk lagi, nunggu pertunjukan selanjutnya, yaitu Kecak Putri. Biasanya kan kecak yang nari cowo ya, tapi ini cewe, banyaaaak, dari yang kicik banget, uummm mungkit usia TK, sampe yang remaja dan dewasa. Mereka jalan berbaris dari luar, jalan lewatin tengah2 penonton bawa kain putih panjang, baru naik panggung. Kereeen...

Abis kecak, sebagai selingan ada semacam drama musikal yang ceritain anak-anak kecil yang lagi main kucing&tikus, tentang cerianya dunia bermain anak. Trus lanjut cerita tentang sejarah bali, umm, tepatnya tentang AJisaka yang menciptakan aksara kuno karena meninggalnya kedua pengawalnya karena memperthankan amanah yang diembannya. tapi btw, bukannya ajisaka ini cerita rakyat jawa ya? CMIIW. Abis itu, selesai deh pertunjukannya.

Ahamdulillah Delisha anteng sepanjang pertunjukan, karena udah dari dua hari sebelumnya dikasih tau bakalan nonton tari bali. Tapi delisha agak kecewa karena dia berharap ada barong disana, tp ternyata ga ada. Hehehe... Kalo gue? Puas sih, berasa Balinya, dari tarian, musik, dekorasi, sampe aroma khas Bali ada disitu. Terimakasih Women's Health Indonesia...

Maafkan kualitas poto yang kacau banget karena lupa ngecharge kamera digital, jadi cuma pake blekberi yang ga ada flash, ga ada autofokus. Fiuh,...


Kamis, 06 September 2012

Ulang Tahun

Another postingan telat...

Selamat ulang tahun buat gue yang ke-25 dan Delisha yang ke-2...
Semoga kita menjadi tim yang semakin kompak dalam segala hal ya Delisha...

Ulang tahun kali ini ga ada perayaan sama sekali. Dapet surprise kado dari ayah walaupun bukan di tanggal 21 nya. Ini kadonya:

Alhamdulillah... ga nyangka juga sih. Tadinya cuma pernah bilang sm ayah kalo ada temen2 kuliah yg pake ini. Ternyata ayah langsung cari2 infonya, dan dibeliin donk. Plus buku juga. Malu deh, ayah ultah aja gue ga ngasih apa2..Makasih banyak ya ayah...

Kalo buat Delisha, ga ada kado spesial juga. Cuma si anak dibawa ke toko mainan dn disuruh milih sendiri mau mainan apa. Dan, ternyata si anak minta mobil-mobilan donk. Ga gue ijinin, akhirnya tetep balik ke selera awal, mainan yang bentuknya Thomas. Yasudahlah...

Oh iya, pas tanggal 24 Agustus, jam 00.00, gue bawa 2 cupcake coklat alakadarnya bikinan sendiri, atasnya dikasih lilin. Kan selama ini Delisha taunya ulang tahun itu tiup lilin dan nyanyi selamat ulang tahun. Dan bocahnya seneeeng, mukanya sumringah banget, sampe minta tiup lilin lagi berkali-kali.

Selamat ulang tahun anakku sayang...
Semoga Delisha tumbuh menjadi anak sehat, cerdas,
Menjadi anak sholehah sebagai penolong kami orangtuamu di akhirat kelak...