Rabu, 13 Juni 2012

Candi Muara Takus

Kalo denger kata candi, yang ada di bayangan kita pasti Borobudur, atau Prambanan, dua candi terbesar di Pulau Jawa. Pernah ga denger nama Candi Muara Takus? Pernah kali ya, di pelajaran sejarah dulu. Tapi mungkin jarang banget yang tau dan pengen tau tentang candi ini, ada dimana sih, atau gimana sih sejarahnya? Mari gue bercerita!

Kebetulan liburan kemarin, sebelum ke Payakumbuh kita ke Pekanbaru dulu, karena pas long weekend  kemarin tiketnya lebih murah daripada ke Padang. Selain itu, penerbangan ke Pekanbaru lebih siang, jadi ga kemaleman sampe sana. Itu sih teorinya ya, nyatanya, si Jakarta Udara hari itu delay semua penerbangan. Harusnya penerbangan kita jam 1, pas jam 1 itu diumumin kalo terlambat 2 jam. Dan, kenyataannya sampe jam 3 pun belum ada tanda-tanda disuruh naik ke pesawat. Bahkan, tak ada pemberitahuan lagi, tak ada nasi box, cuma ada air mineral gelas dan roti yang ga karuan rasanya itu. Hari itu suasana ruang tunggu bener-bener parah. Penumpang marah-marah ke petugas karena nasib yang ga jelas, bayi-bayi pada nangis. Ada rombongan bapak2 dari Surabaya menyabotase microphone petugas manggil-manggil manager, dengan kata2 kasar khas suroboyoan. Akhirnya, jam 4 kurang baru siap pesawatnya, kita naik ke pesawat yang ACnya ga dingin sama sekali (kita bilang mati, tapi kata pramugarinya sih nyala). Sudah selesaikah masalahnya? Belum sodara-sodara! Rencananya penerbangan kami pake airbus yang 34 baris kalo ga salah, dan ternyata terbangnya pake boeing yang 29 baris. Jadilah penumpang dengan nomor kursi 30 ke atas kebingungan cari tempat duduk, disuruh nunggu di gang sampai semua penumpang masuk dan ada tempat kosong. Lalu, nunggu take offnya lebih dari setengah jam dalam kondisi pesawat yang panas, semua penumpang kipas-kipas, bayi-bayi pada nangis, dan pramugari sibuk bagiin tissue ke penumpang. Mehhh... mengecewakan banget lah. Loh, kok malah jadi curhat tentang si Jakarta Udara?

Balik lagi ke Candi Muara Takus. Satu-satunya yang menarik waktu ayah bilang kita ke Pekanbaru adalah, Roti Van Hollano. Semacam breadtalk gitu, tapi menurut gue lebih enak dan sudah bersertifikasi halal. Selain Van Hollano, gue sih ga terlalu suka Pekanbaru, udah kaya Jakarta aja, wisatanya ke Mall. Lalu, gue inget waktu di perjalanan Payakumbuh-Pekanbaru dulu gue liat papan petunjuk jalan bertuliskan Candi Muara Takus. Muncullah ide buat ajak ayah kesana, sekalian perjalanan pulang ke Payakumbuh. Alesannya sih, biar Delisha mencintai budaya Indonesia, ga melulu mainnya ke mol. Hihihi, padahal ini mah asli emaknya yang pengen.

Perjalanan Pekanbaru-Payakumbuh kalo pake mobil pribadi sekitar 5 jam, termasuk istirahatnya buat minum teh manis panas. Bok, ini udah 3 kalinya ya gue pp rute ini, tapi teteup mabok! Kalo pake travel sih bisa lebih cepet, soalnya sopir travel jalur ini kayanya pada punya banyak nyawa cadangan deh, main ngebut aja padahal medannya belah bukit. Nah, Candi Muara Takus ini letaknya di XIII Koto, Kampar. Masih Provinsi Riau, tapi udah deket perbatasan Sumbar. Kalo dari pekanbaru sekitar 130km. Dari jalan utama masuk ke dalem sekitar 17km. Pas masuk jalan kecamatannya itu, kita sempet ragu, bener ga ini jalannya, soalnya sepi dan jelek banget jalannya. Bahkan ada satu titik yang jalannya keputus, jadi lewat tanah aja gitu. Pemdanya gimana ini??

Pas sampai di lokasi, yah, sesuai sama yang gue bayangin. Sepi banget! Cuma ada beberapa anak muda yang kesitu, yang bisa ditebak, buat pacaran. Abis bayar retribusi, masuk ke dalem, di sebelah kiri ada taman bermain anak yang kondisinya udah mengenaskan. Lalu, di sebelah kanan itulah komplek candinya. Di depannya, ada beberapa kios yang menjual makanan minuman dan kaos bergambar candi Muara Takus. Pastinya gue beli 1 donk, buat si bocah.

Masuk komplek candi kita isi buku tamu, yang mana hari itu cuma ada 5 tamu termasuk kita. Disitu juga dijual buku (fotokopian lebih tepatnya) tentang sejarah candi. Pengen sih beli, tapi harganya 10 ribu, dan isinya sama aja kaya di internet. *medit*. Kesan pertama sih buat gue wow ya, karena ini pertama kalinya kesini. Candinya sih ga terlalu besar, dan beda banget sama Borobudur. Kalau borobudur atau prambanan terbuat dari batu hitam, yang ini beda karena bahan utamanya semacam batu bata dari tanah liat. Cantik! Mengingatkan gue sama Menara Kudus yang mirip-mirip gini batu batanya. Ini dia penampakannya.

 Di komplek ini terdapat beberapa candi yaitu Candi Tua, Stupa Mahligai, Candi Bungsu, serta Palangka (urut di foto). Masing-masing candi punya kegunaan sendiri-sendiri.


 Lalu soal sejarahnya sendiri, menurut yang gue inget dari pelajaran sejarah dulu, Candi Muara Takus ini kaitannya sama Kerajaan Sriwijaya. Jauh ya bok padahal Kampar sama Palembang. Dari beberapa referensi yang gue baca, sebetulnya pusat kerajaan Sriwijaya itu ada di sekitar Muara Takus ini, bukan di Sumsel. *siap2 diprotes orang palembang* Apa dasarnya? Berdasarkan penelitian para ahli sejarah, suatu pusat kerajaan itu pasti memiliki istana sebagai pusat pemerintahan dan candi sebagai pusat ibadah. Di sekitar Muara Takus ini dulu terdapat istana, tapi udah hilang tak berbekas dimakan usia. Sementara itu, di sekitar Palembang tidak terdapat candi ataupun istana. Menurut yang gue baca sih, sebetulnya pendapat ini banyak disetujui ahli sejarah dalam maupun luar negeri, namun karena kurangnya publikasi, dan sudah terlanjur beredar di dunia luas termasuk di buku sejarah, jadi orang lebih percaya pusat sriwijaya ada di Sumsel. Untuk cerita lebih rincinya bisa dibaca disini ya.

 Ok, itulah sekilas info tentang Candi Muara Takus. Semoga bermanfaat, dan membuat kita semakin cinta terhadap Indonesia dengan keragaman budayanya. *Sok iyes*. Suka sedih kalo liat tempat wisata yang sepi tanpa peminat, apalagi wisata sejarah ya. Biasanya orang kan cuma seneng piknik ke pantai atau pegunungan. Ayo donk pemerintah dipromosikan tempat wisata yang belum populer, jangan Bali lagi Bali lagi.

BTW ga ada poto ayah dari tadi. Satu aja gapapa ya ayah... Hihihi...




2 komentar:

emaknyashira mengatakan...

Dih ini si emaksiswa lagi liburan nengokin suami toh..

Nah itu gw juga setuju sama teori kerajaan Sriwijaya yang di Kampar itu, tapi takut digampar orang palembang juga :)

Maklum gw penggemar sejarah ndah, jadi pengen deh kapan2 ke Muara Takus ini.

Jeni- Family, and Friends mengatakan...

:) jd inget hapalan wkt SD ,sebutkan nama2 candi di Sumatera, bla2..btw yg patut disalahin siy mmg pemda/pemprov setempat knp infrastruktur ga dibagusin jg promosi yg minim. Padahal pemasukan pajak Riau kan gede ada perusahaan minyak chevron segala kan di sana. Hehehe jd ga salah jg siy kl turis lagi2 hrs ke Bali & Bali (sungkem endah)